Poso – Seperti halaman-halaman sunyi dalam sebuah buku harian raksasa, terumbu karang merekam perjalanan panjang iklim Bumi. Di perairan Poso, Sulawesi Tengah, karang jenis Porites menjadi saksi bisu dinamika suhu laut dan perubahan lingkungan selama ratusan hingga ribuan tahun.

Arsip alami ini kini dimanfaatkan para peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk membaca jejak iklim masa lalu atau paleoclimate, demi memahami perubahan iklim yang tengah berlangsung.

Penelitian ini dilakukan oleh tim periset Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN melalui pengambilan inti karang (coring) di laut dan darat. Proses tersebut bertujuan merekam lapisan pertumbuhan karang yang terbentuk secara bertahap dari waktu ke waktu. Setiap lapisan menyimpan informasi suhu permukaan laut, salinitas, hingga kondisi oseanografi pada periode tertentu. Penelitian ini penting karena wilayah Indonesia memiliki peran strategis dalam sistem iklim global, terutama terkait fenomena El Niño dan La Niña.

“Karang merupakan komponen utama ekosistem terumbu karang. Kerangka karang menyimpan cerita iklim Bumi dari masa lalu hingga kini. Dengan melindungi terumbu karang, kita menjaga pengetahuan penting untuk memahami dan menghadapi perubahan iklim,” ujar Sri Yudawati Cahyarini, periset Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN.

Sri Yudawati menjelaskan, karang Porites membentuk kerangka kalsium karbonat dengan pola pertumbuhan berlapis yang teratur. Pola ini mencerminkan variasi lingkungan laut dari waktu ke waktu. Melalui analisis proksi geokimia, seperti rasio stronsium terhadap kalsium (Sr/Ca) serta isotop oksigen (δ18O), peneliti dapat merekonstruksi suhu permukaan laut dan keseimbangan hidrologi di masa lampau dengan resolusi tinggi, bahkan hingga skala bulanan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu permukaan laut saat ini lebih hangat dibandingkan periode sekitar tahun 1100–1140. Selain itu, perubahan suhu musiman pada masa kini tercatat dua kali lebih besar dibandingkan masa lampau. Temuan ini juga mengungkap bahwa kejadian cuaca ekstrem seperti El Niño dan La Niña terjadi lebih sering dan intens dibandingkan ratusan tahun sebelumnya.

“Data karang membantu kami memahami bahwa perubahan iklim yang terjadi saat ini bukan sekadar siklus alami, tetapi menunjukkan tren penguatan yang nyata,” kata Sri Yudawati.

Studi paleoklimatologi berbasis karang menjadi penting karena memberikan konteks historis terhadap pemanasan global modern. Dengan memahami bagaimana sistem iklim merespons gangguan di masa lalu, para ilmuwan dapat meningkatkan akurasi prediksi dampak perubahan iklim di masa depan. Informasi ini juga menjadi dasar bagi penyusunan kebijakan mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, khususnya bagi wilayah pesisir dan kepulauan seperti Indonesia.

Di sisi lain, riset ini menegaskan urgensi perlindungan terumbu karang. Kerusakan karang tidak hanya mengancam keanekaragaman hayati laut, tetapi juga menghilangkan arsip iklim alam yang sangat berharga. Tanpa karang yang sehat, kemampuan manusia untuk membaca sejarah iklim Bumi akan semakin terbatas.

Melalui penelitian karang Porites di Poso dan wilayah lainnya, BRIN berharap pemahaman publik terhadap perubahan iklim semakin meningkat. Pengetahuan dari masa lalu menjadi kunci untuk menghadapi tantangan iklim di masa depan, sekaligus pengingat bahwa menjaga ekosistem laut berarti menjaga ingatan Bumi itu sendiri.

Silakan Bekomentar
Share.
Exit mobile version