Tasikmalaya – Seperti pepatah Sunda, “cai ngalir ka hilir tapi cita-cita bisa mengalir ke langit,” kisah Muhammad Irfansyah Maulana menjadi bukti bahwa batas geografis bukan penghalang bagi mimpi besar. Dari lorong pesantren di Tasikmalaya, ia menembus panggung sains dunia dan meraih gelar doktor di usia muda.

Perjalanan Irfan bukanlah kisah instan. Lahir di Kabupaten Sukabumi dari keluarga sederhana, ia menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Cipasung sejak 2010. Di sana, ia memadukan ilmu agama dan sains, hingga akhirnya menaruh minat mendalam pada bidang kimia. Setelah menyelesaikan studi sarjana di UPI Bandung pada 2020, ia menghadapi berbagai penolakan beasiswa sebelum akhirnya diterima di Daegu Gyeongbuk Institute of Science and Technology (DGIST), Korea Selatan melalui program terintegrasi S2-S3 di bidang Energy Science and Engineering.

“Eksperimen gagal itu biasa. Yang luar biasa adalah tetap bertahan saat kegagalan itu datang berbulan-bulan,” ujarnya, Jumat (17/04/2026).

Di Korea Selatan, Irfan harus beradaptasi dengan lingkungan akademik yang ketat, budaya baru, serta tekanan riset yang tinggi. Namun, kegigihannya membuahkan hasil. Ia berhasil menghasilkan sejumlah publikasi ilmiah di jurnal internasional bereputasi dan meraih penghargaan Outstanding Graduate Researcher dari kampusnya.

Fokus risetnya pada energi bersih, khususnya teknologi hydrogen fuel cell, menjadi kontribusi penting di tengah tantangan krisis energi global. Ia menilai hidrogen memiliki potensi besar sebagai sumber energi masa depan yang ramah lingkungan untuk berbagai sektor, mulai dari transportasi hingga industri.

“Dunia sedang bergerak ke energi ramah lingkungan. Hidrogen punya potensi besar untuk kendaraan, listrik, hingga industri,” tuturnya.

Meski telah mencapai prestasi tinggi, Irfan tetap memegang teguh nilai-nilai yang ia pelajari di pesantren. Ia menilai disiplin, kesabaran, dan keikhlasan menjadi fondasi utama dalam menghadapi kerasnya dunia riset. Baginya, menuntut ilmu bukan sekadar mengejar gelar, tetapi juga bentuk ibadah dan pengabdian.

Ia juga menyoroti pentingnya dukungan terhadap peneliti di Indonesia. Menurutnya, ekosistem riset di tanah air masih membutuhkan perhatian lebih, terutama dalam hal pendanaan dan penghargaan terhadap ilmuwan.

Di akhir perjalanannya, Irfan menyampaikan pesan bagi generasi muda, khususnya santri, agar tidak merasa rendah diri dengan latar belakang sederhana. Ia menegaskan bahwa dunia tidak menilai asal-usul, melainkan tekad dan usaha.

Kisahnya menjadi pengingat, seperti filosofi nusantara yang mengajarkan ketekunan: hasil tidak pernah mengkhianati proses. Dari desa kecil hingga panggung global, perjalanan Irfan adalah bukti bahwa mimpi besar bisa tumbuh di mana saja.

Silakan Bekomentar
Share.
Exit mobile version