Ciamis – Kebersihan personel menjadi salah satu bagian penting dalam menjaga keamanan pangan pada pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG). SPPG De La Tina yang terletak di Dusun Rataharja RT 14/RW 04,
Desa Padaringan, Kecamatan Purwadadi, Kabupaten Ciamis, mewajibkan seluruh relawan menerapkan standar operasional prosedur (SOP) higiene selama berada di area dapur.
Pengawas Gizi SPPG De La Tina, Eri Supriatna, SKM, mengatakan kepatuhan relawan terhadap SOP menjadi salah satu hal yang diperiksa selama kegiatan produksi makanan berlangsung.
“Pertama kita cek semua relawan, apakah dalam memasak mereka memakai SOP atau tidak, supaya tidak terjadi kontaminasi dengan kondisi yang ada di ruangan,” ujar Eri, Jumat (25/9/2026).
Para juru masak dan staf dapur diwajibkan mengenakan alat pelindung diri (APD), seperti masker, penutup rambut, dan sarung tangan. Perlengkapan tersebut digunakan sebagai bagian dari upaya menjaga makanan dari risiko kontaminasi selama penanganan.
Menurut Eri, penerapan higiene tidak hanya berkaitan dengan kelengkapan yang dikenakan personel. Kebersihan tangan, peralatan, area kerja, serta tata cara menangani bahan makanan juga menjadi bagian dari penerapan ketentuan di dapur.
Pengawasan Berlanjut hingga Pengolahan
Sebelum makanan masuk ke tahap pemorsian, kelayakan bahan dan hasil pengolahan diperiksa terlebih dahulu.
“Pertama dari persiapan, dilihat kelayakannya, apakah bahan baku memenuhi standar atau tidak. Kemudian dari pengolahan juga dilihat apakah layak atau tidak. Setelah persiapan dan pengolahan sudah layak, baru kita ke pemorsian,” jelas Eri.
Pemeriksaan tersebut dilakukan untuk mengurangi risiko kontaminasi sekaligus memastikan makanan memenuhi ketentuan sebelum diberikan kepada penerima manfaat.
Petugas juga menyiapkan sampel makanan sebelum distribusi. Sampel diambil sejak awal kegiatan memasak dan disimpan di tempat yang telah disediakan untuk pemeriksaan.
“Kita mengambil sampel dari awal pertama masak. Sampel ditaruh di showcase supaya sebelum pendistribusian kita bisa mengecek terlebih dahulu apakah layak untuk didistribusikan atau tidak,” ujarnya.
Makanan yang telah selesai dimasak kemudian dikemas dan ditutup selama proses pengiriman. Eri menyebut waktu sejak makanan selesai dimasak hingga diterima penerima manfaat berada pada rentang minimal empat jam hingga maksimal enam jam.
“Dalam pengiriman harus tertutup rapat supaya tidak terkontaminasi dengan yang lain,” katanya.
Bahan Baku Diperiksa Sebelum Digunakan
Kepala SPPG De La Tina, Mohamad Ilham Syah Rizal, mengatakan pengendalian keamanan pangan telah dilakukan sejak bahan makanan tiba di dapur.
“Dari mulai barang datang langsung quality control. Kita sortir mana yang layak dan mana yang tidak. Kita simpan di suhu yang memang seharusnya,” ujar Ilham.
Bahan yang dinilai tidak layak dipisahkan dan tidak digunakan dalam kegiatan memasak. Penyimpanan juga disesuaikan dengan kondisi bahan agar kualitasnya tetap terjaga sebelum diolah.
Ilham mengatakan seluruh kegiatan operasional diupayakan berjalan sesuai SOP dan ketentuan Badan Gizi Nasional (BGN).
“Setiap harinya kadang penerima manfaat berubah, ada yang bertambah. Tapi kita usahakan semuanya bisa terpenuhi dan dilayani sesuai SOP serta aturan BGN,” katanya.
Didukung Sertifikasi Higiene dan Sanitasi
Penerapan kebersihan di dapur turut didukung sejumlah kelengkapan. SPPG De La Tina telah memiliki sertifikat halal dan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS), serta sertifikasi bagi penjamah makanan.
Selain aspek personel dan produksi, pengelolaan lingkungan dapur dilakukan melalui penggunaan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Biofilter Anaerobik BIOFAL dari PT FAL JAYA ABADI yang telah bersertifikat ISO. Sistem tersebut digunakan untuk mengolah air buangan dari aktivitas dapur.
SPPG De La Tina merupakan bagian dari SPPG Yayasan Garuda Galuh Ciamis di bawah program BGN. Dapur dengan ID SPPG YY2TIIFZ tersebut mulai beroperasi pada 15 Desember 2025 dan saat ini melayani 2.347 penerima manfaat.
Penerapan SOP higiene, penggunaan APD, pemeriksaan bahan, pengawasan pengolahan, hingga pengelolaan limbah menjadi rangkaian yang diterapkan untuk mendukung keamanan pangan dalam pelaksanaan MBG.



