Tasikmalaya – Di tengah arus modernisasi yang melaju cepat, sistem parkir digital berbasis QRIS di Kota Tasikmalaya justru menyisakan tanda tanya bagi sebagian pengendara. Inovasi yang diharapkan mempermudah, nyatanya masih membutuhkan adaptasi di lapangan.

Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Tasikmalaya mulai menguji coba sistem pembayaran parkir non-tunai menggunakan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) pada Rabu (08/04/2026). Program ini dilaksanakan di kawasan strategis Jalan HZ Mustofa, tepatnya di sekitar pusat perbelanjaan seperti Toko Seni Abadi dan Ananda. Dalam penerapannya, area parkir dibagi menjadi dua jalur, yakni pembayaran tunai dan non-tunai guna memberikan pilihan kepada pengguna.

Salah seorang juru parkir, Ardiansyah (39), menyebut bahwa sistem QRIS masih tergolong baru, baik bagi petugas maupun masyarakat. Meski begitu, ia mengakui adanya kemudahan bagi pengendara yang terbiasa bertransaksi digital.

“Sekarang sudah tidak ada alasan tidak bayar parkir karena tidak punya uang cash. Kebanyakan anak muda sudah pakai QRIS atau mobile banking,” ujarnya.

Namun demikian, Ardiansyah juga mengungkapkan adanya tantangan dalam penerapan sistem ini, terutama terkait pencairan saldo. Ia menjelaskan bahwa saldo hasil transaksi QRIS tidak bisa langsung diambil sebelum mencapai jumlah tertentu.

“Kalau QRIS, kita harus menunggu sampai saldo terkumpul dulu. Misalnya harus Rp50 ribu baru bisa diambil, sementara tarif parkir kan hanya Rp2 ribu,” jelasnya.

Selain itu, kendala lain yang muncul adalah masih minimnya pemahaman masyarakat terkait pembagian jalur parkir. Tidak sedikit pengendara yang masuk ke jalur non-tunai namun tetap ingin membayar secara tunai, sehingga menimbulkan kebingungan di lapangan.

“Masih banyak yang belum tahu perbedaan jalur. Yang mau bayar tunai justru masuk ke area non-tunai. Jadi kami masih terus melakukan sosialisasi,” tambahnya.

Dishub Kota Tasikmalaya menilai kondisi ini sebagai hal yang wajar mengingat sistem QRIS untuk parkir baru pertama kali diterapkan di wilayah tersebut. Meski informasi telah disampaikan melalui spanduk dan petunjuk di lokasi, tingkat pemahaman masyarakat dinilai masih perlu ditingkatkan.

Pemerintah daerah pun terus melakukan edukasi agar implementasi sistem ini dapat berjalan optimal. Selain mempermudah transaksi, program ini juga diharapkan mampu meningkatkan transparansi dan mengurangi potensi kebocoran Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Dengan berbagai tantangan yang ada, uji coba parkir QRIS ini menjadi langkah awal menuju digitalisasi layanan publik di Tasikmalaya, meski butuh waktu agar benar-benar diterima dan dipahami oleh seluruh lapisan masyarakat.

Silakan Bekomentar
Share.
Exit mobile version