Tasikmalaya – Ibarat menempa keris di dapur pandai besi, karakter tak lahir dari kata-kata semata, melainkan dari proses panjang yang penuh keteladanan. Semangat itu terasa dalam workshop yang digelar SMAN 1 Tasikmalaya untuk memperkuat peran guru sebagai pembentuk karakter generasi muda.
Kegiatan bertajuk Transformasi GTK Istimewa ini dilaksanakan selama dua hari, Selasa hingga Rabu (14-15/04/2026), dengan melibatkan seluruh guru dan tenaga kependidikan. Workshop ini dirancang untuk menjawab tantangan dunia pendidikan yang terus berkembang, sekaligus memperkuat kapasitas pendidik agar tidak hanya berfungsi sebagai penyampai materi, tetapi juga pembina karakter siswa secara menyeluruh.
Sejumlah narasumber dihadirkan dalam kegiatan tersebut, di antaranya Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia Prof Dr Uman Suherman pada hari pertama. Kemudian pada hari kedua, materi disampaikan oleh Kabid GTK Dinas Pendidikan Jawa Barat Dr Firman Oktora bersama pemateri eksternal lainnya.
“Karena sekolah ini adalah rumah kedua. Jadi setiap awal tahun ajaran baru terutama kelas 10 mereka dianggap bayi yang baru lahir. Sehingga ada akad dengan orang tuanya disimpan dititipan ke sekolah. Dan maka kami menjadi orang tua kedua bagi anak tersebut,” ujar Kepala SMAN 1 Tasikmalaya, Dr H Yonandi SSi MT.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pendekatan pendidikan di sekolah ini menitikberatkan pada hubungan emosional antara guru dan siswa. Lingkungan sekolah diharapkan mampu menghadirkan rasa aman dan nyaman, layaknya keluarga, sehingga proses pembelajaran berjalan lebih efektif.
Yonandi juga menekankan bahwa pembentukan karakter tidak cukup hanya melalui instruksi verbal.
“Guru tidak hanya menyuruh untuk ‘nak harus berbuat baik, nak harus begini begitu’, tidak. Tidak cukup begitu. Tapi guru pun harus memberikan keteladanan. Contoh,” katanya.
Selama workshop, peserta mendapatkan berbagai materi strategis, mulai dari manajemen kelas, pendampingan potensi siswa, penguatan psikologis guru, hingga adaptasi terhadap perkembangan teknologi pendidikan. Seluruh materi diarahkan untuk menyamakan visi para pendidik dalam memberikan layanan pendidikan yang komprehensif.
“Nah, ini apa yang kita lakukan workshop ini semata-mata adalah memang yang pertama adalah meningkatkan kompetensi atau kapasitas. Tapi ada hal lain juga apa? Membuat guru terus berkolaborasi, bersinergi. Dengan diberikan nutrisi, mereka menjadi satu pemahaman, satu tindakan. Jadi, guru dengan anak akan selalu apa ada bonding attachment,” tutur Yonandi.
Pada hari kedua, Dr Firman Oktora menekankan pentingnya profesionalisme guru dalam menjalankan tugas, termasuk menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban serta terus meningkatkan kualitas diri.
“Maka tadi Pak Kabid menyampaikan materi bahwa Bapak Ibu guru harus bekerja sesuai aturan. Bapak Ibu guru jangan jangan hanya menuntut hak tapi kewajiban dibiarkan. Bapak Ibu guru terus karirnya ditingkatkan dengan segenap potensi Bapak Ibu. Bapak Ibu guru terus hadir untuk anak,” ucapnya.
Workshop ini menjadi bagian dari komitmen SMAN 1 Tasikmalaya dalam mengimplementasikan nilai Pancawaluya, yakni membentuk pribadi yang cageur, bageur, bener, pinter, dan singer. Nilai tersebut diharapkan menjadi fondasi dalam menciptakan generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga berkarakter kuat.
Pada akhirnya, seperti filosofi pendidikan Nusantara, guru bukan sekadar pengajar, melainkan penuntun arah kehidupan. Melalui penguatan etos dan keteladanan, sekolah berupaya menanam benih karakter yang kelak tumbuh menjadi pohon kehidupan yang bagi masa depan bangsa.


