Close Menu
Vimora.idVimora.id
  • Beranda
  • Politik
  • Ekonomi
  • Lifestyle
  • Artikel
What's Hot

Mengenal Ragam Mangga Unggulan dan Keistimewaannya

3 Feb 2026

Mandi Air Panas atau Dingin, Mana Lebih Baik?

2 Feb 2026

Bandrek: Hangatnya Minuman Tradisional Penuh Khasiat

2 Feb 2026
1 2 3 … 799 Next
Facebook X (Twitter) Instagram
Facebook X (Twitter) Instagram
Vimora.idVimora.id
Subscribe
  • Beranda
  • Politik

    Prabowo Panggil Pimpinan TNI, Bahas Arah Pertahanan Nasional

    17 Jan 2026

    Dampak Serangan AS ke Venezuela, Pemerintah Diminta Siaga Energi

    5 Jan 2026

    Prabowo Gerakkan Kekuatan Nasional untuk Pulihkan Sumatera

    16 Des 2025

    Prabowo Kerahkan Seluruh Kekuatan Nasional untuk Percepatan Tanggap Darurat Sumatera

    1 Des 2025

    Prabowo Serukan Pemda Siaga Hadapi Perubahan Iklim

    1 Des 2025
  • Ekonomi
  • Lifestyle

    Mengenal Ragam Mangga Unggulan dan Keistimewaannya

    3 Feb 2026

    Mandi Air Panas atau Dingin, Mana Lebih Baik?

    2 Feb 2026

    Bandrek: Hangatnya Minuman Tradisional Penuh Khasiat

    2 Feb 2026

    Biar Nggak Ketinggalan Zaman, Kuasai 5 Skill Ini

    31 Jan 2026

    Uniknya Singkatan Jajanan Indonesia, Bikin Laper dan Ngakak!

    30 Jan 2026
  • Artikel
Vimora.idVimora.id

PKL Pepelegi dan Sawotratap Tolak Penggusuran, Harap Solusi dari Pemkab

Daerah Iqbal SuryanaIqbal Suryana19 Mar 2025
Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Reddit Telegram Email
PKL
Puluhan pedagang dan pengurus paguyuban PK5 Sawotratap dan Pepelegi saat buka puasa bersama Selasa malam(18/3/25)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Sidoarjo – Puluhan pedagang kaki lima (PKL) di Jalan Raya Pepelegi, Kecamatan Waru, serta Sawotratap, Kecamatan Gedangan, kembali menyuarakan aspirasi mereka terkait rencana penggusuran lapak setelah Lebaran 2025.

Aspirasi ini disampaikan dalam acara buka puasa bersama yang digelar di Warung Ikan Bakar Lae Lae, Selasa malam

18 Maret 2025. Para PKL yang tergabung dalam paguyuban menyatakan keberatan terhadap rencana penggusuran yang mereka nilai mengancam mata pencaharian mereka.

Sebelumnya, PKL menerima surat pemberitahuan pelanggaran dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas. Namun, dalam surat terbaru, BBWS menyerahkan penyelesaian masalah ini kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sidoarjo.

Tito Pradopo, penasihat PKL yang akrab disapa Bung Tito, menegaskan bahwa PKL tidak ingin bentrok dengan pemerintah dan hanya berharap ada solusi yang adil bagi mereka.

“Awalnya BBWS menyebut PKL sebagai penyebab banjir, padahal menurut kami tidak benar. Setelah kami bersurat, akhirnya BBWS menyerahkan kewenangan ke Pemkab Sidoarjo. Kami hanya ingin kepastian, jangan sampai PKL justru diadu dengan pemerintah,” ujarnya.

Menurut Tito, para PKL mendukung program pemerintah, termasuk upaya penanganan banjir, dan selalu menjaga kebersihan lingkungan. Namun, hingga kini mereka belum pernah diajak berdiskusi untuk mencari solusi bersama.

“Kami di sini mendukung program pemerintah, termasuk soal penanganan banjir. Teman-teman PKL juga menjaga kebersihan. Intinya, kami ingin tetap bisa berjualan tanpa harus digusur, karena ini menyangkut kehidupan banyak keluarga,” tambahnya.

Ketua Paguyuban PKL, Buyung alias Daeng Siruah, juga menekankan bahwa para pedagang telah berupaya menyampaikan aspirasi mereka ke berbagai dinas dan DPRD, tetapi belum ada respons.

“Kami tidak menolak kebijakan pemerintah, kami hanya ingin solusi terbaik. Kalau memang harus ada perubahan, mungkin bisa dibuat konsep seperti box cover agar tempat ini tetap bisa digunakan untuk wisata kuliner,” usulnya.

Menurutnya, pemerintah seharusnya melihat program nasional yang mendukung perkembangan usaha kecil menengah (UKM), bukan justru menghilangkannya.

“Pemerintah pusat selalu mendukung UKM, kenapa di daerah malah ada kebijakan yang bisa mematikan usaha kecil seperti ini? Harusnya ada solusi, bukan hanya penggusuran,” tegasnya.

Sementara itu, Pak Udin, salah satu PKL yang sudah berjualan di lokasi tersebut selama lebih dari 30 tahun, mengungkapkan kegelisahannya jika penggusuran tetap dilakukan.

“Saya sudah jualan di sini lebih dari 30 tahun. Kalau digusur, saya harus pindah ke mana? Umur saya sudah 53 tahun, mencari pekerjaan lain sangat sulit. Harusnya pemerintah memberi solusi sebelum menggusur,” keluhnya.

Menurutnya, alasan banjir yang dikaitkan dengan keberadaan PKL tidak bisa dibenarkan begitu saja tanpa ada kajian lebih dalam.

“Kalau memang karena banjir, apakah benar PKL yang menyebabkan? Pemerintah harus melihat situasi lebih jauh sebelum mengambil keputusan,” tambahnya.

Para PKL berharap Pemkab Sidoarjo mau duduk bersama mereka untuk berdialog dan mencari solusi terbaik tanpa harus menggusur para pedagang. Mereka juga meminta agar pemerintah mempertimbangkan dampak ekonomi bagi para pedagang yang selama ini menggantungkan hidupnya di lokasi tersebut.

Silakan Bekomentar
BBWS Kabar Sidoarjo PKL
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email

Related Posts

Semangat Baru Olahraga Tasikmalaya, PB IGOCIS Siap Cetak Atlet Muda

Rembug KTNA 2025 Kukar Bahas Ketahanan Pangan Nasional

Sajian Bersama Bogasari Bangkitkan Semangat Wirausaha di Tasikmalaya

Berita Terkini

Jalan Kaki 30 Menit: Sehat, Murah, dan Banyak Manfaatnya

AisyahAisyah29 Jan 2026 Kesehatan

Susu Dingin vs Susu Hangat, Mana yang Lebih Baik

27 Jan 2026

Nutrisi Tersembunyi di Kulit Buah

20 Jan 2026

Kelapa Muda vs Kelapa Tua

19 Jan 2026
Stay In Touch
  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
Artikel Terkini

Mengenal Ragam Mangga Unggulan dan Keistimewaannya

3 Feb 2026

Mandi Air Panas atau Dingin, Mana Lebih Baik?

2 Feb 2026

Bandrek: Hangatnya Minuman Tradisional Penuh Khasiat

2 Feb 2026

Permainan Tradisional, Warisan Ceria Penuh Makna

31 Jan 2026

Biar Nggak Ketinggalan Zaman, Kuasai 5 Skill Ini

31 Jan 2026

Uniknya Singkatan Jajanan Indonesia, Bikin Laper dan Ngakak!

30 Jan 2026
© 2026 | Vimora.id by Dexpert, Inc.
PT Dexpert Visi Media
  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.