Jakarta – Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) memperluas jejaring internasional melalui serangkaian kerja sama strategis dengan lembaga halal dari Maroko, China, Korea Selatan, Italia, dan Prancis. Langkah ini dinilai menjadi bagian dari upaya memperkokoh posisi Indonesia dalam ekosistem industri halal dunia yang kian kompetitif.
Penandatanganan kerja sama berlangsung di Kantor BPJPH, Jakarta, pada Rabu (20/05/2026). Kesepakatan tersebut mencakup Mutual Recognition Agreement (MRA), Recognition Agreement (RA), hingga penguatan sistem Jaminan Produk Halal (JPH) bersama perguruan tinggi. Salah satu poin penting adalah penandatanganan MRA antara BPJPH dan Moroccan Institute of Standardization (IMANOR) Kerajaan Maroko yang memungkinkan adanya pengakuan timbal balik atas sertifikat halal kedua negara. Perjanjian itu ditandatangani Kepala BPJPH Ahmad Haikal Hasan bersama Duta Besar Kerajaan Maroko untuk Indonesia, Redouane Houssaini.
Pada kesempatan yang sama, BPJPH juga menjalin Recognition Agreement dengan sejumlah lembaga halal luar negeri yang telah memenuhi standar Sistem Jaminan Produk Halal Indonesia (SJPH). Lembaga tersebut meliputi WHAD Italian Halal Certification Center dari Italia, Global Halal Systems France, GL Halal Center Korea, FUIN Halal Certification Center China, serta Shanghai Museling Testing and Certification. Kehadiran kerja sama tersebut diharapkan mempermudah arus perdagangan produk halal lintas negara sekaligus memperluas akses pasar internasional bagi pelaku usaha Indonesia.
“Kerja sama ini tidak hanya memperkuat hubungan bilateral Indonesia dan negara-negara mitra kita, tetapi juga membuka peluang yang lebih luas bagi produk halal dengan negara mitra untuk masuk dan diterima di pasar internasional,” kata Ahmad Haikal Hasan usai penandatanganan kerja sama.
Menurut Haikal, semakin erat hubungan antarlembaga halal antarnegara, semakin tinggi pula tingkat kepercayaan terhadap sistem sertifikasi halal masing-masing. Kondisi itu diyakini mampu memperlancar distribusi produk halal lintas batas sekaligus memperkuat hubungan ekonomi yang saling menguntungkan.
“Semakin kuat kerja sama yang dibangun, maka akan semakin mudah lalu lintas produk berlangsung. Pada akhirnya, hal ini akan memperkuat sinergi bilateral yang saling menguntungkan bagi kedua belah pihak,” ujar pria yang akrab disapa Babe Haikal tersebut.
Di tengah berkembangnya industri halal global, Haikal menilai konsep halal telah mengalami transformasi besar. Jika sebelumnya halal identik dengan kepatuhan terhadap syariat agama, kini label halal berkembang menjadi simbol mutu, keamanan, serta keterlacakan produk yang diterima pasar internasional. Hal tersebut mendorong semakin banyak negara nonmuslim maupun negara dengan populasi muslim minoritas untuk masuk ke industri halal global.
“Halal hari ini telah berkembang menjadi simbol quality assurance, healthy product, dan premium standard yang diterima secara global. Dunia kini melihat halal sebagai jaminan kualitas, keamanan, dan traceability produk,” ujarnya lagi.
Ia juga menyoroti langkah agresif sejumlah negara seperti Tiongkok dan Korea Selatan dalam mengembangkan sektor halal sebagai strategi industri nasional. Menurutnya, fenomena tersebut menunjukkan bahwa halal kini bukan hanya isu keagamaan, tetapi telah menjadi instrumen ekonomi global yang menjanjikan.
“Kita melihat bagaimana negara-negara seperti Tiongkok dan Korea Selatan bergerak cepat dalam pengembangan industri halal. Ini menunjukkan bahwa halal telah menjadi bahasa universal tentang kualitas dan kepercayaan,” katanya.
Selain memperluas kerja sama internasional, BPJPH turut memperkuat kolaborasi dalam negeri melalui penandatanganan perjanjian kerja sama Jaminan Produk Halal bersama Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang. Langkah tersebut diharapkan memperkuat kapasitas akademik, riset, dan pengembangan sumber daya manusia dalam mendukung ekosistem halal nasional.
BPJPH menegaskan, seluruh langkah ini merupakan bagian dari visi besar Indonesia agar tidak hanya menjadi pasar produk halal dunia, melainkan tampil sebagai pemain utama yang memiliki sistem sertifikasi kuat, kredibel, serta diakui secara internasional. Dengan meningkatnya pengakuan global terhadap standar halal Indonesia, peluang ekspor produk nasional diperkirakan semakin terbuka lebar dalam beberapa tahun mendatang.



