Kecemasan digital kini menjadi bagian dari keseharian banyak anak muda. Salah satunya adalah FOMO atau Fear of Missing Out, sebuah istilah yang menggambarkan rasa takut dan cemas karena merasa tertinggal dari tren, kegiatan, atau momen yang sedang dinikmati orang lain.

FOMO tidak muncul secara tiba-tiba. Ia tumbuh seiring kebiasaan berselancar di media sosial, melihat update teman yang sedang liburan, makan di tempat hits, atau menghadiri acara yang tampaknya “wajib datang”. Semua itu menimbulkan perasaan seolah-olah kita tidak cukup produktif, tidak cukup bahagia, atau bahkan tidak cukup “gaul”.

Fenomena ini bukan hal sepele. Berdasarkan survei dari American Psychological Association, anak muda yang sering mengalami FOMO berisiko lebih tinggi mengalami gangguan kecemasan sosial dan menurunnya rasa percaya diri. Rasa iri, gelisah, dan terus membandingkan diri menjadi bagian dari tekanan sehari-hari.

FOMO bisa memengaruhi kesehatan mental secara diam-diam. Saat melihat unggahan orang lain yang tampak bahagia dan sukses, kita sering lupa bahwa media sosial hanya menampilkan potongan terbaik dari kehidupan seseorang. Akibatnya, kita merasa “tertinggal” padahal kenyataannya tidak ada yang sedang berlomba.

Rasa takut ini semakin intens ketika muncul pemikiran seperti:

“Kenapa aku nggak diundang?”

“Kok semua orang udah nonton film itu, aku belum?”

“Semua orang punya achievement, aku doang yang gini-gini aja?”

Perasaan semacam itu hanya memperbesar kecemasan dan mengganggu keseimbangan mental.

Dampak FOMO tidak hanya psikologis, tapi juga sosial. Seseorang bisa jadi memaksakan diri untuk ikut tren yang sebenarnya tidak sesuai dengan dirinya. Bahkan, bisa menghabiskan uang, waktu, atau tenaga hanya demi terlihat relevan di mata orang lain.

Untungnya, FOMO bisa dicegah dengan cara yang menyenangkan. Dalam kampanye edukasi digital, pendekatan “FUN” diperkenalkan untuk mengajak anak muda menyadari bahwa mereka bisa bebas dari tekanan FOMO tanpa kehilangan arah.

Berikut ini tiga langkah FUN yang bisa membantu kamu mengatasi rasa takut tertinggal tren:

F – Fokus pada tujuan pribadi

Setiap orang punya perjalanan hidup masing-masing. Kamu tidak harus mengikuti langkah atau pencapaian orang lain. Fokuslah pada apa yang ingin kamu capai, bukan apa yang sedang viral.

Ketika kamu menetapkan tujuan pribadi, kamu jadi lebih tenang dan tahu ke mana arah langkahmu. Hidup bukan tentang siapa yang lebih dulu, tapi tentang siapa yang tetap konsisten sampai akhir.

U – Utamakan hal penting, bukan tren

Tidak semua tren harus diikuti. Kadang, yang viral belum tentu relevan dengan kebutuhanmu. Belajar memilah mana yang penting dan mana yang hanya sekadar ramai di timeline akan membantumu lebih bijak dalam mengambil keputusan.

Ingat, tren akan berlalu. Tapi pilihan yang kamu ambil hari ini akan menentukan kualitas hidupmu ke depan.

N – Nyatakan rasa syukur selalu

Rasa syukur adalah penangkal alami dari FOMO. Saat kamu mulai menghargai apa yang kamu miliki, kamu akan lebih bahagia dan tidak mudah terpengaruh oleh pencapaian orang lain.

Buat kebiasaan sederhana, seperti menulis 3 hal yang kamu syukuri setiap hari. Ini bisa memperbaiki perspektif dan menyeimbangkan perasaan di tengah terpaan konten yang menggiurkan.

Mengelola FOMO bukan berarti memutus hubungan dengan media sosial. Tapi lebih kepada bagaimana kita bersikap bijak saat menggunakannya. Jadikan media sosial sebagai sarana inspirasi, bukan tekanan.

Alih-alih iri melihat kesuksesan orang lain, jadikan itu motivasi. Tapi tetaplah berjalan dengan versi terbaik dari dirimu sendiri.

Setiap kali merasa “tertinggal”, ingat bahwa kamu tidak sedang berlomba dengan siapa pun. Kamu hanya perlu setia pada prosesmu dan percaya bahwa waktu terbaikmu akan datang.

Di era digital, mengetahui kapan harus “pause” dan kembali ke diri sendiri adalah bentuk self-love yang paling nyata.

Silakan Bekomentar
Share.
Exit mobile version