Close Menu
Vimora.idVimora.id
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Kebudayaan
  • Lifestyle
  • Artikel
What's Hot

Di Atas Tali, Peserta Jamnas XII Belajar Saling Percaya

15 Agu 2026

Jamnas XII Dibuka, Swasembada Pangan Masuk Arena Pramuka

14 Agu 2026

Pramuka Khalifa Curi Start Jalankan Regulasi Baru, Struktur Gugus Depan Langsung Ditata

6 Agu 2026
1 2 3 … 838 Next
Facebook X (Twitter) Instagram
Facebook X (Twitter) Instagram
Vimora.idVimora.id
Subscribe
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Kebudayaan
  • Lifestyle

    Cara Mengatur Keuangan Bulanan agar Gaji Tidak Cepat Habis

    29 Jul 2026

    Cara Menata Ruang Kerja agar Lebih Nyaman dan Produktif

    28 Jul 2026

    Kelapa dan Beragam Olahannya dalam Masakan Indonesia

    26 Jul 2026

    Ketan Menjadi Bahan Andalan Beragam Jajanan Tradisional Indonesia

    24 Jul 2026

    Tanaman Herbal yang Mudah Ditanam di Pekarangan Rumah

    23 Jul 2026
  • Artikel
Vimora.idVimora.id

Di Atas Tali, Peserta Jamnas XII Belajar Saling Percaya

Halang Rintang Berpasangan Uji Kekompakan Pramuka Penggalang di Jamnas XII 2026
Pendidikan Yuliyani UtamiYuliyani Utami15 Agu 2026
Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Reddit Telegram Email
Di Atas Tali, Peserta Jamnas XII Belajar Saling Percaya
Peserta dari berbagai kontingen menyatukan langkah saat menghadapi rintangan di arena Petualangan Rimba.
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Jakarta – Siang mulai terasa di bawah rimbun pepohonan ketika giliran peserta putra memasuki arena Halang Rintang Berpasangan Jambore Nasional XII 2026.

Peserta dari berbagai kontingen berkumpul di satu lintasan dan mengikuti tantangan untuk bergerak bersama hingga mencapai garis akhir.

Pada Minggu (15/8/2026), Pramuka Penggalang putra dari sejumlah daerah mengikuti kloter kedua atau sesi siang kegiatan Petualangan Rimba di Bumi Perkemahan dan Graha Wisata Pramuka Cibubur, Jakarta Timur. Kak Fadly memandu permainan Halang Rintang Berpasangan sebagai instruktur, sementara panitia pelaksana menjelaskan setiap tahapan permainan sebelum peserta memasuki lintasan.

Salah satu peserta adalah Arya dari Jakarta. Ia bersama peserta lain dari berbagai kontingen menyesuaikan langkah dengan pasangan masing-masing selama mengikuti kegiatan tersebut.

Rio dari Papua Barat juga mengikuti kloter putra pada sesi siang. Bagi Rio, peserta perlu mengandalkan kerja sama dan kekompakan, bukan hanya keberanian atau kekuatan fisik, untuk menyelesaikan setiap rintangan.

“Seru banget, butuh kekompakan dan kepercayaan agar bisa sampai ke finish. Banyak teman, banyak pengetahuan,” kata Rio, peserta dari Papua Barat, saat mengikuti halang rintang berpasangan, Sabtu (15/8/26).

Pernyataan itu menggambarkan inti permainan yang peserta jalani. Dalam Halang Rintang Berpasangan, setiap orang tidak bekerja sendirian, tetapi harus menyelaraskan gerak, mendengarkan aba-aba, dan menjaga keseimbangan pasangan.

Panitia menggabungkan peserta putra dari berbagai kontingen dalam kloter siang untuk mengikuti kegiatan bersama. Pola tersebut membuka kesempatan bagi mereka untuk berkenalan dengan peserta di luar daerah asal sekaligus belajar bekerja sama dengan orang yang sebelumnya belum tentu mereka kenal.

Di lokasi kegiatan, spanduk bertuliskan “Halang Rintang Berpasangan” dengan pesan “Mengatasi Halang Rintang Bersama” terpasang di tengah kawasan pepohonan. Pesan itu terasa langsung ketika peserta mulai berhadapan dengan tali-tali yang membutuhkan koordinasi dua orang.

Sebelum permainan dimulai, Kak Fadly dan panitia pelaksana memaparkan teknis setiap rintangan kepada peserta. Mereka menjelaskan setiap tahapan secara bertahap agar peserta memahami posisi tubuh, arah gerakan, cara menjaga pegangan, serta cara berkomunikasi selama permainan.

Panitia juga mendampingi peserta ketika berpindah dari satu rintangan ke rintangan berikutnya. Panitia memberikan pendampingan karena permainan menggunakan tali, ketinggian tertentu, serta teknik keseimbangan yang membutuhkan kehati-hatian.

Halang Rintang Berpasangan membawa konsep “1 Nyawa 2 Badan”. Istilah itu menekankan bahwa dua peserta harus bergerak sebagai satu kesatuan dan menjaga pasangannya selama menyelesaikan lintasan.

Pada rintangan Parallel Line atau “Kereta Manusia”, dua peserta berdiri berhadapan di atas tali sejajar. Kedua tali tersebut masing-masing memiliki panjang sekitar 10 meter, berjarak sekitar satu meter, dan terpasang kurang lebih satu meter dari permukaan tanah.

Keduanya harus berpegangan tangan dan melangkah dengan ritme yang sama. Kaki kanan bergerak bersama, kemudian kaki kiri, sementara satu peserta memberikan komando agar gerakan tetap teratur.

Peserta menyebut teknik ini sebagai “Cermin”. Peserta harus membaca gerak pasangannya dan mengikuti aba-aba sederhana seperti “kanan”, “kiri”, atau “stop”.

Sedikit ketidaksamaan ritme dapat memengaruhi keseimbangan keduanya. Karena itu, kepercayaan tidak hanya menjadi istilah dalam permainan, tetapi benar-benar menentukan apakah pasangan dapat terus bergerak atau harus kembali mengatur posisi.

Rintangan berikutnya adalah V Wild Woosey atau “Tali Huruf V”. Dua tali membentuk huruf V dengan jarak yang semakin melebar menuju bagian atas.

Peserta bergerak dari titik bawah bersama pasangan dengan posisi punggung saling bertemu. Mereka saling mendorong untuk mempertahankan keseimbangan sambil menggeser kaki sedikit demi sedikit.

Pada bagian ini, peserta perlu terus berkomunikasi. Aba-aba seperti “naik”, “tahan”, atau “geser sedikit” membantu pasangan menjaga tempo ketika jarak tali semakin lebar.

Semakin jauh peserta bergerak, semakin sulit mereka mempertahankan keseimbangan. Karena itu, kemampuan mendengar pasangan sama pentingnya dengan keberanian untuk terus maju.

Peserta putra juga menghadapi Tarzan Swing atau “Ayun Maut”. Permainan ini menggunakan tali ayun dan menuntut peserta melepaskan pegangan pada waktu yang tepat sebelum mendarat di zona aman.

Peserta menggunakan teknik “3-2-1 lepas”. Mereka memanfaatkan dua ayunan pertama sebagai ancang-ancang, lalu menggunakan ayunan ketiga untuk mencapai titik tertinggi sebelum melepaskan tali.

Saat mendarat, peserta harus menekuk lutut. Aturan tersebut mengajarkan peserta untuk menyelesaikan setiap tantangan dengan teknik yang benar, bukan sekadar mengandalkan keberanian.

Rintangan berikutnya, Mohawk Bridge atau “Jembatan Indian”, menggunakan tali sepanjang sekitar 10 meter yang terpasang kurang lebih 50 sentimeter dari permukaan tanah.

Satu peserta berjalan di atas tali, sementara pasangannya berada di tanah untuk membantu menjaga keseimbangan. Di tengah lintasan, keduanya harus bertukar peran.

Pergantian peran membuat setiap peserta merasakan dua posisi sekaligus: menjadi orang yang membutuhkan dukungan dan menjadi orang yang bertanggung jawab memberi dukungan. Latihan tersebut sederhana, tetapi membuat nilai kerja sama terasa konkret.

Bagi Arya dari Jakarta, Rio dari Papua Barat, dan peserta putra lainnya, kloter siang tidak hanya menghadirkan tantangan fisik. Mereka juga harus membangun komunikasi dengan peserta dari kontingen berbeda dalam waktu yang relatif singkat.

Pertemuan lintas daerah menjadi salah satu pengalaman penting dalam Jambore Nasional. Anak-anak Pramuka tidak hanya membawa nama kontingen masing-masing, tetapi juga bertemu budaya, kebiasaan, dan cara berkomunikasi yang berbeda.

Ucapan Rio tentang “banyak teman, banyak pengetahuan” memperlihatkan sisi pendidikan dari kegiatan tersebut. Pengetahuan tidak selalu datang dari penjelasan formal, tetapi juga dari cara peserta lain menyelesaikan masalah, memberi aba-aba, dan menjaga pasangannya.

Halang rintang juga mengajarkan peserta bahwa mereka tidak harus menjadi yang paling cepat untuk mencapai garis akhir. Dalam permainan berpasangan, bergerak terlalu jauh tanpa memperhatikan teman justru dapat membuat keduanya kehilangan keseimbangan.

Karena itu, peserta menunjukkan keberhasilan melalui kemampuan menyelesaikan perjalanan bersama. Mereka tetap membutuhkan kekuatan fisik, tetapi juga harus mengandalkan komunikasi, kesabaran, dan rasa percaya.

Kloter putra pada sesi siang Petualangan Rimba akhirnya menjadi ruang pertemuan antara tantangan dan pertemanan. Dari Jakarta hingga Papua Barat, peserta datang membawa identitas daerah masing-masing, lalu belajar menyamakan langkah di atas lintasan yang sama.

Bagi peserta, garis finish bukan hanya akhir sebuah permainan. Di baliknya ada pengalaman tentang bagaimana mempercayai orang lain, menerima bantuan, memberi dukungan, serta membangun pertemanan baru di tengah Jambore Nasional XII 2026.

Silakan Bekomentar
Halang Rintang Berpasangan Jambore Nasional XII Papua Barat Petualangan Rimba Pramuka Penggalang
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email

Related Posts

Jamnas XII Dibuka, Swasembada Pangan Masuk Arena Pramuka

Pramuka Khalifa Curi Start Jalankan Regulasi Baru, Struktur Gugus Depan Langsung Ditata

Universitas Republik Indonesia: Harapan Baru atau Tantangan Baru Pendidikan?

Berita Terkini

Jamnas XII Dibuka, Swasembada Pangan Masuk Arena Pramuka

Yuliyani UtamiYuliyani Utami14 Agu 2026 Pendidikan

Pramuka Khalifa Curi Start Jalankan Regulasi Baru, Struktur Gugus Depan Langsung Ditata

6 Agu 2026

Kebakaran Hebat Landa Kampung Adat Ciptamulya Sukabumi

25 Jul 2026

10 Kebiasaan Sederhana yang Bisa Mengurangi Stres Sehari-hari

25 Jul 2026
Stay In Touch
  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
Artikel Terkini

Cara Mengatur Keuangan Bulanan agar Gaji Tidak Cepat Habis

29 Jul 2026

Cara Menata Ruang Kerja agar Lebih Nyaman dan Produktif

28 Jul 2026

Mengapa Menulis Jurnal Harian Bisa Membantu Mengelola Emosi?

27 Jul 2026

Kelapa dan Beragam Olahannya dalam Masakan Indonesia

26 Jul 2026

Ketan Menjadi Bahan Andalan Beragam Jajanan Tradisional Indonesia

24 Jul 2026

Tanaman Herbal yang Mudah Ditanam di Pekarangan Rumah

23 Jul 2026
© 2026 | Vimora.id by Dexpert, Inc.
PT Dexpert Visi Media
  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.