Ciamis – Belasan kilogram sisa makanan dari dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) SPPG De La Tina setiap hari mendapat tujuan baru. Alih-alih seluruhnya dibuang menjadi sampah, sisa sayuran, buah hingga daging dimanfaatkan untuk membesarkan maggot atau larva Black Soldier Fly (BSF).
Budidaya maggot itu dikembangkan sekitar satu kilometer dari dapur SPPG De La Tina di Dusun Rataharja RT 14 RW 04, Desa Padaringan, Kecamatan Purwadadi, Kabupaten Ciamis. Setiap hari sekitar 11 hingga 15 kilogram limbah organik dari kegiatan dapur dikumpulkan dan dibawa ke lokasi budidaya sebagai pakan larva.
Pengelola budidaya maggot, Tarsono, menjadi orang yang rutin mengambil sisa makanan tersebut. Pemanfaatan itu membuat sebagian limbah organik dari proses penyediaan makanan MBG tidak langsung masuk ke tempat pembuangan.
“Yang dari dapur sini (SPPG De La Tina) diambil sama saya,” ujar Tarsono saat menjelaskan pemanfaatan limbah dapur MBG untuk budidaya maggot di Desa Padaringan, Kecamatan Purwadadi, Ciamis, Jumat (25/9/26).
Sisa pangan yang diterima Tarsono cukup beragam. Selain bagian sayuran dan buah yang tidak digunakan, terdapat sisa makanan serta bahan pangan lain, termasuk daging, yang dapat dimanfaatkan dalam proses pembesaran maggot.
Di lokasi budidaya telah tersedia empat biofon/biofoam dan rumah penetasan. Sarana tersebut digunakan dalam tahapan pengembangan larva BSF, mulai dari penetasan hingga proses pembesaran.
Budidaya ini masih berada pada tahap awal. Telur maggot yang saat ini dikelola baru sekitar 20 gram sehingga hasil budidayanya belum dipasarkan.
“Belum sempat menjual, soalnya ini baru perdana,” kata Tarsono saat ditemui di lokasi budidaya maggot di sekitar Desa Padaringan, Kecamatan Purwadadi, Ciamis, Jumat (25/9/26).
Meski baru dimulai, budidaya tersebut membuka jalur pemanfaatan lanjutan bagi sisa makanan dari dapur MBG. Maggot yang sudah tumbuh nantinya dapat digunakan sebagai salah satu alternatif pakan untuk ikan maupun hewan ternak.
Sebagian sisa makanan juga tidak seluruhnya masuk ke tempat budidaya maggot. Limbah organik tertentu dimanfaatkan langsung sebagai pakan ikan yang dipelihara di kolam, antara lain nila dan gurame.
Budidaya Dipisahkan dari Dapur MBG
Lokasi budidaya maggot sengaja ditempatkan terpisah dari dapur SPPG De La Tina. Jarak sekitar satu kilometer memberikan pemisahan antara area produksi makanan untuk penerima manfaat dengan aktivitas pengolahan limbah organik.
Pemisahan tersebut penting karena dapur MBG harus mempertahankan kebersihan dan keamanan pangan. Terlebih, makanan yang diproduksi SPPG De La Tina dikonsumsi ribuan penerima manfaat.
SPPG De La Tina merupakan bagian dari SPPG Yayasan Garuda Galuh Ciamis. Dapur tersebut mulai beroperasi pada 15 Desember 2025 dan saat ini melayani sekitar 2.347 penerima manfaat.
Penerima manfaatnya mencakup kelompok balita, ibu menyusui, dan ibu hamil. Besarnya jumlah penerima membuat aktivitas produksi makanan juga menghasilkan sisa bahan pangan yang perlu ditangani setiap hari.
Di titik inilah budidaya maggot memiliki fungsi dalam pengelolaan limbah dapur. Dengan volume 11 hingga 15 kilogram per hari, pemanfaatan sisa pangan dapat mengurangi jumlah material organik yang harus dibuang.
Larva BSF memiliki kemampuan mengonsumsi berbagai bahan organik. Dalam budidaya, karakter tersebut dapat dimanfaatkan untuk mengolah sisa pangan sekaligus menghasilkan maggot yang kemudian dapat digunakan sebagai sumber pakan.
Bagi SPPG De La Tina, skema tersebut membentuk hubungan antara kegiatan penyediaan makanan dan pengelolaan sisa produksinya. Makanan didistribusikan kepada penerima manfaat, sementara bagian organik yang tersisa diarahkan kembali untuk kegiatan budidaya.
Limbah Cair Masuk IPAL BIOFAL
Pengelolaan lingkungan di SPPG De La Tina tidak hanya mengandalkan budidaya maggot. Limbah cair yang muncul dari aktivitas dapur ditangani melalui Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).
Dapur tersebut menggunakan IPAL Biofilter Anaerobik BIOFAL dari PT FAL JAYA ABADI. Sistem itu digunakan untuk membantu mengolah air limbah yang muncul setelah kegiatan produksi makanan dan disebut telah mengantongi sertifikat ISO.
Pengolahan air limbah berkaitan dengan sejumlah parameter pencemar, seperti Biological Oxygen Demand (BOD), Chemical Oxygen Demand (COD), dan Total Suspended Solids (TSS).
BOD berkaitan dengan kebutuhan oksigen oleh mikroorganisme dalam menguraikan bahan organik. COD menggambarkan kebutuhan oksigen secara kimia untuk menguraikan zat pencemar, sedangkan TSS menunjukkan jumlah padatan yang tersuspensi di dalam air.
Dengan mekanisme tersebut, limbah dapur dipisahkan berdasarkan karakteristiknya. Sisa pangan organik dapat diarahkan untuk budidaya maggot dan pakan ikan, sementara limbah berbentuk cair menjalani proses pengolahan melalui IPAL.
Keamanan Pangan Tetap Jadi Bagian Utama
Di sisi produksi makanan, SPPG De La Tina telah memiliki sejumlah kelengkapan untuk mendukung higiene dan keamanan pangan. Kelengkapan tersebut meliputi sertifikat halal, Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS), serta sertifikasi bagi penjamah makanan.
Pengawasan bahan pangan dilakukan sejak bahan baku tiba di dapur. Bahan disortir untuk memastikan kelayakannya sebelum disimpan pada suhu yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing bahan.
“Dari mulai barang datang langsung quality control. Kita sortir mana yang layak dan mana yang tidak. Kita simpan di suhu yang memang seharusnya,” jelas Kepala SPPG De La Tina, Mohamad Ilham Syah Rizal, saat menerangkan pengawasan bahan makanan di SPPG De La Tina, Desa Padaringan, Kecamatan Purwadadi, Ciamis (25/9/26).
Pengawasan tersebut berlanjut hingga makanan didistribusikan kepada penerima manfaat. Dengan demikian, pengelolaan dapur berjalan dari pemeriksaan bahan pangan, produksi dan distribusi makanan hingga penanganan limbah yang tersisa.
Budidaya maggot menjadi salah satu bagian yang menarik dari mata rantai itu. Sisa pangan yang sebelumnya berpotensi menjadi beban sampah memperoleh fungsi baru sebagai sumber pakan larva dan kemudian berpeluang kembali masuk ke sektor peternakan maupun perikanan.
Skalanya memang belum besar dan hasil budidayanya belum dijual. Namun, dengan pasokan limbah organik 11 hingga 15 kilogram setiap hari, pengembangan maggot di sekitar SPPG De La Tina mulai memperlihatkan bagaimana sisa produksi dapur MBG dapat dikelola menjadi sumber daya lain.
Bagi dapur yang melayani 2.347 penerima manfaat, pengelolaan sisa pangan juga menjadi bagian penting setelah makanan selesai diproduksi. Di SPPG De La Tina, proses itu dimulai dari langkah sederhana: memisahkan sisa organik, membawanya keluar dari area dapur, lalu memanfaatkannya untuk membesarkan maggot.
