Bontang – Pemanfaatan dana Bantuan Operasional Sekolah Kinerja (BOSKIN) untuk SMK diharapkan dapat diperluas agar mendukung kompetensi vokasi yang sesuai dengan kebutuhan dunia industri.
Hal itu disampaikan Pengurus Dewan Pendidikan Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) Rediyono, dalam kegiatan Bimbingan Teknis Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) bagi SMK penerima BOSKIN di Auditorium SMK Putra Bangsa, Kota Bontang, Rabu 21 Oktober 2026.
Menurut Rediyono, SPMI memiliki peran penting dalam membangun budaya mutu sekolah yang berkelanjutan. Upaya tersebut perlu didukung pemenuhan standar pendidikan serta pengambilan keputusan berdasarkan data, sehingga perbaikan sekolah tidak hanya berorientasi pada administrasi, tetapi juga berdampak pada kualitas pembelajaran.
Ia berharap dana BOSKIN dapat dimanfaatkan secara lebih luas untuk mendukung pengembangan kompetensi siswa dan guru, terutama dalam menyiapkan lulusan yang sesuai dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri (DUDI).
“Dana BOSKIN diharapkan dapat diperluas pemanfaatannya untuk pengembangan mutu SMK, seperti teaching factory, penyusunan kurikulum bersama DUDI, pemagangan guru produktif, media pembelajaran, dan berbagai program lain yang menunjang peningkatan kualitas pendidikan,” ujar Rediyono.
BOSKIN saat ini diarahkan pada tiga pilar utama, yakni peningkatan literasi dan numerasi peserta didik, penguatan digitalisasi pembelajaran, serta perbaikan tata kelola satuan pendidikan.
Karena itu, perluasan pemanfaatan dana menjadi salah satu harapan agar dukungan pendanaan juga dapat menjawab kebutuhan khusus pendidikan vokasi.
Kegiatan tersebut diikuti sekitar 24 peserta yang terdiri atas kepala sekolah dan guru dari tiga SMK swasta di Bontang penerima BOSKIN. Bimtek menghadirkan Rita Zahra dari Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Provinsi Kaltim sebagai narasumber.
Pembukaan kegiatan diwakili Pengawas SMK Bontang, Erlina Krisdiyanti yang mewakili Kepala Sub Dinas Wilayah Kutai Timur dan Bontang.
Dalam sambutannya, Erlina menekankan pentingnya pemetaan mutu melalui Rapor Pendidikan sebagai dasar penyusunan program sekolah.
Hasil pemetaan tersebut perlu diterjemahkan menjadi langkah perbaikan yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing satuan pendidikan.
Selain penguatan mutu berbasis data, ia mendorong SMK memperkuat keterhubungan dengan dunia kerja melalui konsep link and match. Keselarasan pembelajaran dengan kebutuhan industri dinilai penting agar kompetensi lulusan lebih relevan dengan perkembangan lapangan kerja.
“Selain meningkatkan kualitas pembelajaran, sekolah juga harus memastikan lingkungan pendidikan aman dan nyaman bagi siswa. Perundungan tidak boleh dianggap sebagai persoalan biasa karena dapat mengganggu proses belajar dan perkembangan peserta didik,” pesanya.
Melalui bimtek ini, sekolah diharapkan mampu memperkuat pelaksanaan SPMI sebagai bagian dari perbaikan berkelanjutan, serta memastikan hasil evaluasi sekolah benar-benar menjadi dasar pengembangan pembelajaran, kompetensi guru, serta kesiapan lulusan menghadapi kebutuhan dunia kerja.
